Connect with us

Berita Utama

Air Mata Koruptor Tumpah, Ketika Divonis 7 Tahun

Aminadab Rahandra, eks Kepala Bank Maluku Malut Cabang Dobo, Kabupaten Aru divonis tujuh tahun. -Dade-

Ambon, ameksOnline. –  Aminadab Rahandra, eks Kepala Bank Maluku Malut Cabang Dobo, Kabupaten Aru hanya bisa duduk menyesali perbuatannya di kursi pesakitan. Airmatanya menetes di kedua pipihnya. Dia tak menyangka langkahnya mencairkan cek Rp4 miliar berbuntut di penjara tujuh tahun. 

Senin (23/9) sore, majelis hakim membaca putusan Rahandra dalam sidang putusan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Negeri Ambon. Dia dihukum tujuh tahun. Upaya kuasa hukum meloloskannya sia-sia. Mantan pegawasi Bank Maluku ini harus di penjara. 

Hadir dengan mengenakan kemeja kotak-kotak lengan panjang, mantan Kepala Bank Maluku Malut Cabang Dobo, Kabupaten Aru ini didampingi kuasa hukumnya Mourits Latumeten dan Jhoemicho Syaranamual. Sidang dipimpin ketua majelis hakim Jimmy Wally, didampingi Benard Panjaitan dan Felix Ronny Wuisan.

Mendengar hukuman tujuh tahun penjara, Rahandra menangis dihadapan majelis hakim. Tangisan itu tak berhenti hingga dia dibawa ke penjara menggunakan mobil tahanan. Selain putusan tujuh tahun, dia didenda Rp 200 juta.

Hukumannya kemungkinan bertambah, bila tak membayar denda. Tambahan hukumannya tiga bulan. Tak sampai disitu hakim juga membebankannya membayar uang pengganti Rp. 3.110.548.000 atau ditahan selama satu tahun kurungan.

Putusan majelis hakim jauh lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Maluku, Rolly Manam­piring dan Y.E Oceng Almahdaly yang sebelumnya menuntut terdakwa delapan tahun penjara.

Majelis hakim menilai perbuatan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar pasal 2 ayat (1) jo pasal 18 UU Nomor 31 tahun 1999 tentang tipikor seba­gaimana telah dirubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 jo pasal 55 ayat (1) KUHP jo pasal 64  ayat (1) KUHP.

TERBUKTI BERSALAH

Pada akhir tahun 2010, Elifas Leaua, bendahara Setda Kabupaten Kepulauan Aru mencairkan cek senilai Rp.4 miiar lebih. Dalam cek tersebut terdapat sisa APBD yang tidak diserap oleh Setda sehingga akan disetor dalam kas daerah. 

Saat dilakukan penarikan, uang tersebut tidak dapat diambil. Dana itu dititipkan pada PT. BM-Malut Cabang Dobo. Tanggal 20 April 2011, terdakwa selaku pimpinan kantor cabang meminta dana milik setda disetorkan ke dua rekening pribadi masing-masing nomor  0802069719 atas nama Johosua Futnarubun sebesar Rp.500 juta.

Selanjutnya disetorkan lagi ke rekening nomor 0802057829 atas nama Petrosina R. Unawekla sebesar Rp.500 juta, sedangkan  sisa dana Rp.3 miliar didepositokan lagi atas nama Yusuf Kalaipupin.

Pada 5 Juli 2011, Elifas Leaua menyetor ke kas umum daerah dengan rekening nomor 0801036465 sebesar Rp.3,353 miliar yang merupakan penyetoran sisa APBD tahun anggaran 2010 dan uang Rp.72,3 juta lebih dana tidak terduga tahun 2010. 

Kemudian tanggal 6 Juli 2011 Elifas menyetor lagi Rp.656 juta lebih. Sejumlah uang tersebut merupakan setoran sisa APBD tahun anggaran 2010. Pada saat Elifas melakukan penyetoran ke kas umum daerah tanggal 5 Juli 2011, terdakwa tidak menarik uang Rp.500 juta yang dititipkan pada rekening Joshua Futnarubun. Dana itu dibiarkan saja dan ditarik secara bertahap oleh terdakwa untuk keperluan pribadi.

Menurut JPU, penarikan secara bertahap oleh terdakwa ini diketahui berdasarkan foto copy rekening saksi Joshua Futnarubun yang diberikan terdakwa pada saat pemeriksaan.

Selain itu, dana Rp.3 miliar milik Setda Aru yang didepositokan ke rekening milik Jusuf Kalaipupin, juga tidak pernah diketahui bunga deposito. Bunga ini diduga dinikmati oleh terdakwa.

Terdakwa juga pernah memberikan panjar kepada beberapa pengusaha dan SKPD lingkup Pemkab Kepulauan Aru tanpa melalui me­kanis dan SOP yang ada pada Bank Maluku Malut.

Setelah mendengar putusan, terdakwa dan JPU menyatakan pikir-pikir. Tak lama kemudian hakim langsung menutup sidang dengan mengetuk palu sidang. (AKS)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Berita Utama