Connect with us

Berita Utama

Banjir Bandang Mengancam Batumerah, BWS: Solusinya Check Dam Rinjani Dibangun

Atasi Banjir Batumerah
Check Dam yang sementara dalam tahap penyelesaian pembangunan oleh BWS Maluku di Ahuru, Negeri Batumerah, Kota Ambon. -Humas BWS Maluku-

Ambon, ameksOnline.- Banjir masih menjadi ancaman bagi warga Kota Ambon saat musim hujan. Penataan kota yang amburadul menjadi pemicu kerawanan saat banjir. Kondisi ini paling rawan ada di Kampung Rinjani, hingga Perkampung Negeri Batumerah.

Balai Wilayah Sungai Maluku, mengidentifikasi adanya titik rawan banjir Banding yang sewaktu-waktu mengancam warga. Titiknya ada di Kampung Rinjani, Negeri Batumerah, Kota Ambon.

Di lokasi itu, beberapa tahun lalu sudah dibangun Check Dam. Check Dam ini dibuat pada alur jurang atau sungai kecil. Fungsinya untuk mengendalikan sedimen dan aliran permukaan yang berasal dari daerah tangkapan di sebelah atasnya.

Kini Check Dam di Rinjani sudah penuh oleh sedimen. Volumennya sudah mencapai titik atas atas Check Dam. Karena itu, fungsinya kian menurun. Dan tak bisa lagi sebagai penampung sedimen.

Kondisi ini diperparah dengan pembangunan rumah oleh warga diatas sedimen hasil tangkapan Check Dam pada tengah sungai. BWS tidak dapat memperkirakan sampai kapan Check Dam itu akan bisa menahan sedimen tersebut.

“Yang kita takutkan, kalau Check Dam itu alami patahan atau tak bisa lagi menahan beban sedimen. Maka beban itu akan lepas bersamaan dengan air yang tertampung. Akhirnya hunian diatas sedimen hingga masyarakat hilir Kali Batumerah akan terkena dampaknya,” kata PPK Pembangunan Check Dam Ahuru, Jackson Tehupiring kepada ameksOnline, Jumat(21/5).

Mereka tak menginginkan kondisi ini terjadi. Karena itu, sejak lama BWS Maluku sudah merancang upgrade kembali Check Dam Rinjani. Check Dam yang ada akan ditingkatkan fungsinya agar daya tampungnya besar, dan menghindari kondisi rawan, sekaligus mereduksi potensi banjir.

Pembangunannya memakan biaya Rp160 miliar lebih. Dibiayai oleh Asia Development Bank atau ADB. Proyeknya sudah ditenderkan, dan menyisahkan penetapan pemenang. Hingga kini belum ditetapkan, pihak ketiga yang akan menangani proyek tersebut.

Kendala dihadapi BWS kini, adalah masalah pembebasan lahan. Masyarakat yang kini mendiami lokasi rinjani terutama diatas sedimen, masih menolak dilakukan pembebasan. Padahal lokasi yang ditempati juga sangat berbahaya untuk dijadikan tempat hunian.

“Kendala kami, hanya masalah pembebasan lahan. Lahan itu harus dibebaskan dulu. Kami minta masyarakat bisa memahami bahaya yang kini mengancam. Kasihan kalau tidak dibangun. Masyarakat akan terkena dampak bahayanya,” kata Eadtwin Leatemia, Kepala Seksi Pelaksanaan / PPK Pengadaan Tanah BWS Maluku.

Disayangkan, kata dia, bila luas areal pengadaan tanah yang akan digunakan untuk peningkatan fungsi Check Dam Rinjani tidak maksimal. Masyarakat sendiri yang akan terkena dampak bahaya banjir.

Sekarang saja, kata dia, manfaat dari kegiatan tersebut dapat dirasakan saat kondisi curah hujan tinggi saat ini. Padahal kegiatan pada check Dam Petra – Yakobus baru mencapai 83 persen sementara kegiatan upgrading Rinjani belum dilaksanakan.

“Harapan kami, seluruh luas areal yang telah direncanakan untuk dibebaskan dapat terlaksana sehingga fungsi dari pelaksanaan kegiatan untuk mereduksi banjir, dan mengurangi masyarakat Terdampak di hilir akan dapat tercapai,” kata dia.(UPI)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Berita Utama