Connect with us

Lintas Pulau

Di Buru Rawan Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak

Sekretaris Dinas P3AMD Kabupaten Buru, Azis Bega.


 
Namlea, ameksOnline.- Meski banyak pelaku kekerasan seksual terhadap anak dibawa umur telah dihukum dengan hukuman maksimal, namun hingga kini tak memberikan efek jerah kepada pelaku lainnya di Kabupaten Buru. Kasus ini justru lebih meningkat di tahun 2021.
 
Meningkatnya kasus kekerasan seksual terhadap anak ini disampaikan Sekretaris Dinas P3AMD Kabupaten Buru, Azis Bega kepada Ambon Ekspres, Selasa (26/5) dikantor dinas setempat. Dia menyebutkan bahwa jumlah kasus kekerasan seksual  terhadap anak ditahun 2019 berjumlah 28 kasus. Sedangkan ditahun 2020 adalah sebanyak 20 kasus dan ditahun 2021 sebanyak 18 kasus.

Faktor penyebab terjadinya kasus tersebut antara lain, faktor ekonomi, rendahnya pendidikan, lingkungan dan tempat tinggal, teknologi serta faktor kejiwaan. ” Jadi kasus kekerasan seksual terhadap anak dikabupaten Buru sejak tahun 2019 hingga tahun 2021 masih cenderung meningkat,” akui dia.

Menurutnya, untuk meminimalisir kasus ini, maka visi misi dinas P3AMD adalah memberikan ruang dan pelayanan  seluas-luasnya kepada masyarakat dan instansi terkait untuk bersinergitas.
 
Karena itu, langkah yang dilakukan dinas tersebut untuk meminimalisir kasus ini adalah membentuk P2TP2A (Pusat Pelayananan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) Kabupaten Buru serta membentuk PATBM di 10 Kecamatan di Kabupaten Buru.
 
Selain itu, kegiatan sosialisasi pun terus dilakukan di setiap sekolah, OPD serta pemasangan baliho dan pembagian leaflet, pembentukan Forum Anak Kayu Putih sebagai pelopor dan pelapor,  pembagian sembako KAMUKA (kami untuk kamu) sebagai bentuk perhatian dan pemberian support dari dinas P3AMD kepada para korban, serta melakukan kegiatan audience dengan Kepala Kejaksaan Negeri Buru dan Kasi
Pidum.
 
“ Jadi langkah dinas P3AMD Kabupaten Buru untuk meminimalisir terjadinya kasus ini sudah banyak melakukan koordinasi dan kerja sama  dengan semua stakholder, “ kata dia.
 
Dia menambahkan, kegiatan lainnya yang akan dilaksanakan adalah pelatihan TOT untuk Pengurus PATBM, rapat koordinasi dengan para penegak hukum (Polres, Kejaksaan, PN) dalam rangka pencegahan serta penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, pelatihan trauma healing untuk para korban, sosialisasi anti kekerasan bersama Bunda Parenting.
 
Sedangkan kegiatan lainnya yang selalu dilaksanakan adalah melakukan pendampingan terhadap korban untuk mengevaluasi dampak psikis dan fisik, pembinaan terhadap korban maupun pelaku anak, apabila korban ataupun pelaku memiliki status APS (anak putus sekolah) maka akan diurus kelanjutan pendidikannya serta sosialisasi resmi ataupun tidak resmi di setiap tempat yang disinggahi.
 
” Maraknya tingkat kriminalitas kasus kekerasan seksual terhadap anak ini sangat meresahkan masyarakat karena memberikan dampak pada rasa ketakutan dan seorang trauma anak. Olehnya itu, saya berharap agar untuk meminimalisir terjadinya kasus ini diharapkan agar semua stakholder dapat membangun sinergitas dan kerja sama yang baik, ” pungkasnya. (MG/AKS)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Lintas Pulau