Connect with us

Nasional

Fintech Jadi Ancaman, Ini Yang Harus Dilakukan Holding UMi

Dirut BRI
Dirut BRI, Sunarso

Jakarta, ameksOnline. – Fintech maupun fidusia menjadi ancaman. Mereka menawarkan jasa layanan keuangan yang lebih cepat, dan efisien. Bunganya juga lebih rendah. Dengan menjadi anggota holding UMi, hal tersebut bisa diatasi.

Hal ini disampaikan Direktur Utama BRI, Sunarso menanggapi pembentukan Holding UMi yang telah mencapai tahap final dengan ditandatanganinya pengalihan saham (inbreng) Pegadaian dan PNM kepada BRI selaku induk Holding UMi.

Sunarso yang juga pernah ‘menakhodai’ Pegadaian, mengatakan tantangan bagi BUMN penyedia layanan jasa gadai tersebut, terlalu besar jika berdiri sendiri dan harus tetap menjalankan bisnis intinya agar tetap bertahan.

Baca:

“Pegadaian bisa bagi tugas dengan saudara-saudaranya di Holding UMi ini. Pegadaian menjadi lebih fokus untuk menangani layanan pinjaman secara gadai dengan lebih efisien. Kemudian dengan begitu, kapasitasnya bisa diperbesar, di core competency-nya di gadai. Saya kira itu strateginya Pegadaian ke depan,” ujarnya.

Demikian dengan strategi untuk PNM, kata dia, tetap fokus pada basis bisnisnya group lending, melalui pembinaan masyarakat untuk berbisnis secara komersial atau empowering people di tataran bawah.

“Bahwa kemudian kenyataannya memang yang disentuh oleh PNM itu adalah yang belum feasible dan yang belum bankable. Dan itu yang akan kita masukkan ke dalam ekosistem. Sebanyak mungkin,” ujarnya.

Setelah melalui pendampingan PNM, kata Sunarso, pelaku usaha ultra mikro yang feasible dan bankable bisa mengajukan pinjaman berbasis gadai, atau lebih besar lagi ke BRI untuk memperluas usahanya.

Menurut Sunarso, hal tersebut merupakan proses tracking perjalanan nasabah ultra mikro, untuk naik kelas dalam memperluas pasar dan memperbesar bisnisnya.

“Jadi strategi PNM yang paling utama adalah menyediakan dan menjadi provider dari sumber-sumber pertumbuhan. Proses holding ini bukan merger, maka tidak ada yang berubah dalam masing-masing entitas baik PNM maupun Pegadaian. Tapi memperkuat dan mensinergikan bisnis model masing-masing,” tegas Sunarso.

Baca:

Menurut dia, tantangan dalam menjalankan bisnis pada segmen mikro dan ultra mikro adalah biaya operasional yang tinggi. Hal ini dikarenakan cukup banyak orang dan jaringan kerja yang terlibat untuk memberikan pelayanan.

Selain itu, Sunarso menyampaikan, human error dan pengelolaan resiko operasional pun menjadi semakin tinggi. Melalui holding UMi tantangan diatas dapat diatasi dengan strategi yang terintegrasi.

“Dengan dibentuknya holding ini, maka kira-kira hal-hal yang bisa ditekan: satu, kolaborasi dan didigitalkan. Maka kemudian digitalisasi itu lah yang akan menurunkan dua hal, operational costnya akan turun kemudian operational risknya akan turun,” pungkas Sunarso. (yan)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Nasional