Connect with us

Berita Utama

Jawaban Dekan FKIP Unpatti, Dibalas Dosen: Jawaban Memalukan

Liberty Warisial
DR Liberty Wairisal

Ambon, ameksOnline.- Perseteruan antara Dekan FKIP Universitas Pattimura, Izaak Wenno dan sejumlah dosen di fakultas itu masih belum surut. Jawaban Wenno, membuat sejumlah dosen membongkar borok guru besar pendidikan tersebut.

Wenno sebelumnya mengungkapkan, kalau dana penelitian itu murni berasal dari fakultas. Hanya saja jawaban Wenno dibalas anak buahnya di kampus, Liberty Wairisal dengan sebuah kebohongan.

Jawaban Wenno, disebutnya sebagai kekeliruan dan ketidaktahuan Dekan. Kata dia, istilah dana murni itu hanya diperuntukan bagi dana rupiah murni dari kementerian. Sedangkan dana penelitian fakultas berasal dari PNBP Fakultas.

“Maka dia harus tau bahwa dana itu sesuai aturan dialokasikan 15% dari PNBP untuk peneltian. Karena FKIP memiliki PNBP tahun ini Rp12 miliar,. Karena Covid-19 maka dana penelitian dan pengabdian harus sebesar 1,8 miliar, namun yang diumumkan hanya sebesar 1,3 miliar,” beber Berty.

Baca: Dosen Tuding Dekan FKIP

Menurut dia, jika benar pembiayanan hanya diperuntukan 72 proposal penelitian yang lolos seleksi, dengan rata-rata kurang dari Rp14 juta per proposal, dan 72 Proposal pengabdian dengan dana 5 juta per proposal, maka dibutuhkan dana Rp1,4 M.

“Sisanya dikemanakan? Dan ini merupakan ketidaktransparansi dan pembohongan pengelolaan dana terhadap civitas akademika FKIP Unpatti. Apakah ada kegiatan gali lobang tutup lobang? INI ADA APA…..Saya minta institusi penegak hukum segera memeriksa pengelolaan keuangan FKIP yang dinilai tidak trasparan ini,” terang dia.

Sebenarnya, kata dia, kalau diusut banyak Dosen yang mengeluh terkait ketidakadilan dialami dalam seleksi penelitian FKIP, yang dilakukan oleh reviewer dan Dekan.

“Mengapa pengumuman hasil seleksi tidak trasparan dilakukan dengan mengumumkan secara keseluruhan pengusul beserta hasil penilaiannya? Yang dilakukan reviewer dan Dekan adalah mengirimkan hasil penilaian per individu dosen pengusul terkait hasil penilaian dan hanya melalui pesan WA,” tanya dia.

Menurut dia, tindakan ini sangat memalukan dan menunjukan tidak trasparannya pengelolaan penelitian di FKIP, dan ketidakmampuan pengelolaan fakultas oleh Dekan yang terkesan abal-abal.

“Saya sampaikan bahwa terkait kewenangan pengelolaan penelitian berdasarkan Organisasi dan Tata Kerja Universitas Pattimura Nomor 20 tahun 2016 pasal 45, bahwa Fakultas mempunyai tugas menyelenggarakan dan mengelola pendidikan akademik, vokasi, dan/atau profesi dalam satu atau beberapa pohon/kelompok ilmu pengetahuan dan teknologi,” tegas Berty.

Kewenangan fakultas, kata dia, dalam pengelolaan penelitian tidak ada. Kewenangan penelitian ada pada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) sebagaimana Pasal 75 dalam OTK yang menyebutkan pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat ada pada LPPM.

“Sekali lagi saya katakan bahwa penyataan Dekan di media cetak membuktikan saudara Dekan tidak paham pengelolaan dana Penelitian. Dan Dekan-lah yang melakukan pembohongan publik sebagai pimpinan fakultas dan sebagai akademisi bagi sivitas akademika FKIP dan masyarakat luas dan ini sangat memalukan sebagai seorang Dekan,” kata dia.

Baca: Vaksin di Ambon Menipis

Dia menjelaskan, pengangkatan reviewer berdasarkan Panduan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat edisi XIII Tahun 2020, yang diterbitkan oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset dan Teknologi / Badan Riset dan Inovasi Nasional bahwa reviewer internal harus ditetapkan melalui Keputusan Rektor dan harus terdaftar di DRPM Kementerian.

Soal reviewer, Berty mengaku memiliki dasar pijak yaitu Panduan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat edisi XIII Tahun 2020, yang diterbitkan oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Kementerian bahwa Komite Penilaian dan/atau Reviewer Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Internal Perguruan Tinggi harus memenuhi 7 persyaratan, bukan sebagian.

Dia menyindir, pernyataan dekan soal sukses Dekan FKIP sebelumnya, menunjukan kekerdilan pikiran, dan hanya mencari kambing hitam untuk menutupi kesalahan pengelolaan penelitian di FKIP.

“Saya berbicara di media murni sebagai seorang dosen dan akademisi, yang merasa kebijakan Dekan FKIP dalam pengelolaan penelitian sarat ketidakadilan. Dan hanya membangun dinasti kelompok pendukung dalam Fakultas,” tegas Berty lagi.(yan)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Berita Utama