Connect with us

Berita Utama

Kisah Paramedis RSUD Haulussy Tangani Pasien Covid-19

RSUD Haulussy
KEMANUSIAAN : Suster Gisla Latukolan dan Suster Eby Lamatokan saat melayani pasien Covid-19 di RSUD dr M Haulussy Ambon.-ISTIMEWA/AMBON EKSPRES-

Tenaga medis adalah garda terdepan dalam penanganan pasien terinfeksi virus Korona atau Covid-19. Berbagai upaya dan tindakan dilakukan untuk bisa menyembuhkan mereka yang terpapar virus mematikan ini. Bahkan, ketika ajal sudah dekat.

RESKY SOHILAIT, Ambon Ekspres

Selasa (9/2) dinihari, ada kabar duka datang dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Melkianus Haulussy Kudamati Ambon. Seorang pasien yang terkonfirmasi terpapar Covid-19 menghembuskan nafas terakhirnya.

Keluarga pasien berduka. Namun, tenaga medis yang selama kurang lebih dua pekan merawatnya juga sangat kehilangan. Pasalnya, sebelum meninggal, ada kisah tersendiri yang melekat antara pasien dan para medis itu.

Sebelum ajal menjemput, pasien yang juga memiliki riwayat penyakit penyerta (komorbid) ini sempat menyampaikan keinginan kepada para perawat yang setia mendampinginya. Pasien wanita ini minta untuk dipeluk dan dibacakan Alkitab.

Para perawat sendiri tidak menyangka bahwa itu adalah permintaan terakhir pasien sebelum menghembuskan nafas terakhir. Mereka beranggapan itu adalah permintaan biasa yang diharapkan dapat membuat nyaman pasien selama dalam perawatan.

Dengan sukacita, keinginan pasien itu diwujudkan. Tanpa ada kekhawatiran bakal tertular virus Korona, dua orang perawat dengan mengenakan Alat Pelindung Diri (APD), memenuhi keinginan pasien. Seorang perawat berbaring disamping pasien sambil memeluk. Perawat lain membacakan ayat Alkitab seperti keinginan pasien. Mazmur 91.

Kedua perawat itu, Suster Gisla Latukolan dan Suster Eby Lamatokan. Dengan sukacita dan penuh kasih, mereka memenuhi permintaan pasien. Mereka tidak menyangka itu adalah komunikasi terakhir dengan pasien wanita ini.

Suster Lenny Futwembun, rekan Suster Gisla dan Suster Eby mengatakan, pada Senin (8/1) malam, pasien ini terlihat gelisah. Dia kemudian meminta kepada kedua perawat itu untuk menemaninya. Memeluk dirinya dan membacakan Alkitab. Dia juga meminta perawat untuk memutar lagu-lagu rohani.

“Pasien ini juga ikut menyanyi ketika mendengar lagu rohani yang diputar. Pasien terlihat sangat tenang. Dia terus tersenyum,” ungkap Lenny saat dihubungi Ambon Ekspres, Kamis (11/2).

Menurut Suster Lenny, malam itu pasien terlihat sangat senang. Dia tenang karena sudah mendengar lagu rohani, mendengar bacaan Alkitab dan dipeluk oleh perawat yang bertugas. Malam itu, pasien ini terlihat sangat senang. Mungkin dia sudah menyiapkan dirinya juga. Alkitab itu dibacakan sekitar jam 23.00 WIT.

“Setelah itu petugas medis diganti. Ketika pak mantri masuk, justru pasien ini meminta mantri untuk beristirahat agar dia juga bisa tidur. Jadi itu memang kata-kata terakhir almarhumah kepada para perawat,” jelas Lenny.

Karena memiliki penyakit penyerta (kormobid), pasien akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada Selasa (9/1) dinihari. “Kami sangat berduka. Kami sudah berusaha untuk melayani dan memberikan yang terbaik. Tapi Tuhan berkehendak lain,” ujarnya.

Almarhumah diketahui beragama Katolik. Dua imam dari Keuskupan Amboina, Pastor Pius Titirloloby dan Pastor Skia Mangsombe kemudian melakukan pelayanan doa kepada almarhumah sebelum dimakamkan.

Pelayanan paramedis kepada almarhumah ini, diungkapkan Pastor Pius Titirloloby dalam postingannya di media sosial facebook.Diberinya judul ‘BERILAH DAKU BELAIAN YANG TERAKHIR’. Hari ini, Selasa 9 Februari 2021, saya dan Pastor Skia Mangsombe mendoakan, pasien Covid- 19 yang meninggal, dan akan dimakamkan. Sebelum meninggal, pasien ini meminta perawat untuk membacakan Kitab Suci baginya, dan juga meminta agar dia tidur pada lengan dari perawat, serta minta dibelai. Dan perawat itu memenuhi permintaannya dengan penuh cinta. SALUT untuk para perawat, yang tidak hanya berusaha memenuhi kebutuhann fisik, tetapi juga kebutuhan rohani dari pasien.

“Dan walaupun para perawat tidak dapat menyembuhkannya, tetapi mereka telah memberikan kebahagiaan baginya. Sungguh pasien mengalami dicintai dan dikasihi saat dia meninggal, dan itulah yg membahagiakan. Sekali lagi SALUT untuk para perawat. Tuhan memberkati Anda dan keluarga,” ungkap Pastor Pius Titirloloby.

Cuitan ini sudah mendapat tanggapan dari 300 orang dan lebih dari 100 komentar. Komentar umumnya merasa salut dengan apa yang sudah dilakukan para medis demi memenuhi keinginan dari pasien. Mereka juga mendoakan semoga almarhumah mendapat tempat disisi Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Kisah yang mengharukan. Kita mohon keselamatan jiwa pasien covid juga mohon berkat berlimpah bagi perawat dengan tindakannya yang iklas & mulia. Sehingga pasien Covid meninggal dalam cinta. Terima kasih juga kepada romo yg mengambil jalan resiko yang berat dalam panggilan suci sebagai kaum terurapi dalam menghadirkan cinta & pelayanan bagi sdr/i yang berada di pengujung sakratul maut,” cuit Yeri Kulwembun menanggapi postingan Pastor Pius Titirloloby.

“Tenang bersama Bapa di surga. Tuhan berkatilah perawat yang melayani dengan penuh cinta kasih itu. Biarlah Engkau menjadi perisai yang dapat melindunginya dari semua hambatan, ungkap netizen lainnya,” Nansi Pelupessy dalam cuitannya.

Postingan dari Pastor Pius Titirloloby yang juga Kepala SMA Xaverius Ambon ini, juga diposting di media sosial Facebook Gereja Katolik. Postingan ini disukai lebih dari 4.700 netizen. Dibagikan hingga 620 kali dan mendapat komentar lebih dari 500 kali.

“Terpujilah Tuhan, semoga arwahnya tenang dalam keabadian, semoga para tenaga medis diberi kekuatan fisik dan rohani melawat para pasien. Dimana memang inilah yang sangat dibutuhkan pasien covid menjelang ajalnya, yang jauh dari keluarga yang dicintai dan mencintai,” cuit Luciana Mutiara Simanjuntak.

Perawat yang luar biasa. Melayani dengan penuh kasih. Tuhan memberkati setiap pelayanannya, ungkap Octaviana Tandi.

Selamat jalan ke Rumah Bapa yang kekal. Para tenaga kesehatan kiranya diberi kekuatan dan kesehatan dalam melayani siapa saja yang membutuhkan tangan kasih mereka, kata netizen lainnya, ONa Nepomosena.(***)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Berita Utama