Connect with us

Berita Utama

Kisah Relawan Covid-19 di Ambon, Diintimidasi Tapi Tak Gentar

RSUD Haulussy

Ambon, ameksOnline.- Relawan Covid-19 di bidang pemulasaran dan pemakaman jenazah masih mendapat cibiran dan intimidasi. Namun, mereka tak gentar dalam menjalankan tugas mulai itu demi kemanuisaan.
**
Herry Latuheru belum melupakan peristiwa ‘perampasan’ jenazah Coronavirus Disease (Covid-19) di Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon. Hari itu, Jumat, 26 Juni 2020, puluhan warga mencegat mobil ambulans RSUD dr. Haulussy dan mengambil paksa jenazah positif Covid-19.

Polisi yang mengawal peti jenazah dan petugas pemakaman dengan alat pelindung diri (APD) tak berbuat banyak setelah warga mengepung mobil ambulans, dan berhasil mengeluarkan jenazah dan membawa ke rumah duka di kawasan Galunggung, Desa Batu Merah.

“Selain itu, di wilayah lain seperti Kudamati juga terjadi hal serupa,”kata Herry kepada ameksOnline, 30 Desember 2020.

Herry Latuheru adalah Kepala Markas Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Maluku. Ia sudah lama terjun sebagai relawan kemanusiaan, terutama dalam pemakaman jenazah paska bencana alam seperti Tsunami Aceh, Padang dan Palu.

Ketika kasus pertama Covid-19 di Ambon pada 22 Maret tahun lalu, Herry bersama 30 relawan PMI Maluku diminta terlibat dalam Gugus Tugas—kini Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 untuk provinsi dan Kota Ambon.

Sebanyak 12 relawan PMI Maluku masuk dalam Tim Pemulasaran dan Pemakaman Jenazah Covid-19 Provinsi Maluku. Sisanya ditugaskan di lokasi karantina terpusat di Kota Ambon untuk membantu tenaga kesehatan.

Meski sudah malang-melintang mengurus jenazah, Herry mengakui, penanganan jenazah Covid-19 memiliki tantantangan tersendiri. Tak hanya ancaman penularan virus, ia dan timnya juga menerima tekanan batin akibat kerap diintimidasi dan diancam oleh sebagian orang yang belum tereduikasi dengan baik tentang bahaya Covid-19.

“Dari jenazah pertama hingga sata ini, memang kita mendapatkan tekanan dari pihak keluarga. Kita bahkan diintimidasi,”ungkapnya.

Penanganan dan pemulasaran jenazah Covid-19 dilakukan sesuai protokol kesehatan Republik Indonesia dan World Health Organization (WHO), dan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sebagai petugas pemulasaran, Herry dan rekan-rekannya selalu melaksanakan peraturan tersebut.

Tetapi amukan dan intimdiasi dari keluarga jenazah dimaklumi, karena mereka belum mendapatkan informasi dan edukasi yang baik tentang penanganan Covid-19.

“Hal ini menyebabkan keluarga kadang brutal untuk mengambil paksa jenazah. Tapi ya, begitulah luapan emosi keluarga yang sebenarnya bisa dimaklumni,”tandasnya.

Tim pemulasaran dari PMI Maluku punya cara tersendiri untuk mengendalikan emosi ketika berhadapan dengan pihak keluarga jenazah, yakni tes psikologi. Relawan yang memiliki tingkat emosi tinggi, disarankan untuk refreshing sebelum kembali bertugas.

“Manusia punya tingkat kejenuhan dan emosi, dan akan mencapai klimaksnya. Olehnya itu, kita terus lakukan evaluasi,”jelasnya.

Kiat Terhindar Dari Covid-19

Relawan PMI memiliki tugas utama dalam penanganan Covid-19. Pertama, penyemprotan disinfektan untuk area publik, rumah ibadah, areal perkantoran. Kedua, pemulasaran dan pemakaman jenazah Covid-19, dan ketiga, edukasi Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada masyarakat, terutama di sekolah-sekolah.

Hal ini menyebabkan para relawan rentan terpapar virus Korona. Tak hanya diri sendiri, tapi juga keluarga di rumah.

Agar terhindar dari virus mematikan itu, Herry dan rekan-rekannya selalu menerapkan protokol kesehatan 3M (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan). Selain itu, emastikan APD steril saat keluar rumah, dan menyemprotkan disinfektan pada APD dan mandi sebelum berinteraksi dengan keluarga di rumah.

Sejak awal menangani jenazah, tim relawan PMI belum terpapar Covid-19. “Sejak awal saya sudah sampaikan kepada relawan, kalau teman-teman tidak aman, maka keluarga juga tidak aman,”tandasnya.

Ia berharap, masyarakat Maluku dan Kota Ambon khususnya bahu-membahu dengan pemerintah melawan virus ini dengan mematuhi protokol kesehatan 3M. Bisa belajar dari New Zealand (Selandia Baru) yang sudah bebas dari virus Korona sejak tiga bulan terakhir karena disiplin dan tegas menerapkan protokol kesehatan.

“Mereka sudah tidak pakai masker, tetapi membatasi akses dari luar negeri. Ini luar biasa. Jadi, kembali kepada kesadaran kolektit dari masyarakat dan pemerintah untuk mencegah virus ini. Kalau kita lengah, pasti akan terpapar,”pesannya. (Tajudin Buano)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Berita Utama