Connect with us

Berita Utama

Meninggalnya HK, Anaknya: Ini Pembunuhan

Ambon, ameksOnline. –  Meninggalnya Hasan Keiya (HK), disebut pihak keluarga sebagai bentuk pembunuhan. Tidak ada nilai-nilai kemanusiaan disitu. Namun keluarga tidak ingin menyalahkan siapapun.  Hanya pelayanan RSUD Haulussy terhadap pasien dinilai tidak maksimal. 

“Saya mau katakan, ini pembunuhan. Pembunuhan. Tidak ada nilai-nilai kemanusiaan disitu,” kata Sahal Keiya, anak HK. Hal Ini disampaikan dalam sidang terbuka DPRD Maluku yang menghadirkan Kepala Dinas Kesehatan, Direktur RSUD Haulussy. Rapat berlangsung kemarin di genug DPRD Maluku. 

Penegasan Sahal ini didasarkan pada sejumlah bukti selama ayahnya menjalani perawatan di RSUD Haulussy, Kudamati, Ambon.  Hasan Keiya meningga dunia, Jumat 26 Juni 2020 . Dia divonis berdasarkan test, covid-19 dengan penyakit bawaan kanker. 

Sahal Keiya, didampingi Ikatan Kerukunan Keluarga Tehoru Teluti (IKATT). Sahal kemudian membeberkan perlakukan pelayanan terhadap terhadap Ayahnya selama dirawat di RSUD Haulussy yang sangat tidak manusiawi. 

HK awalnya dirawat di RSUD Masohi. Dia divonis penyakit komplikasi kanker, diabetes dan pergeseran tulang belakang. Karena kondisi makin parah,  HK dirujuk ke RSUD Haulussy Ambon dengan rapid test negatif.

Setelah di RSUD Haulussy, petugas kesehatan menyampaikan kepada keluarga HK, bahwa rumah sakit tersebut tidak melayani pasien non Covid.  Yang dilayani hanya pasien Covid.

Mereka akhirnya disuruh ke rumah sakit Bhakti Rahayu. Disana, dilakukan rapid test. Hasilnya reaktif. Mereka kemudian disuruh kembali lagi ke RSUD Haulussy.

Sampai di RSUD Haulussy, HK  dimasukan ke ruangan IGD pada tanggal 16 Juni 2020. Datang petugas menyerahkan surat dan disuruh untuk ditandatangani pihak keluarga, tanpa dilihat isi surat itu.

“Kata petugas tandatangan saja. Bapak reaktif tetapi, tidak menunjukkan gejala apa-apa. Tanpa mau kami melihat isi suratnya,” ujar Sahal mengutip pernyataan petugas. 

Setelah tandatangan, HK kemudian dibawah petugas ke ruangan dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Pelayanan ini sempat ditanyakan, pihak keluarga. Kata petugas, pasien dibawah ke ruangan Isolasi.

Empat hari di ruang isolasi, mereka baru diperbolehkan masuk menggunakan APD untuk melihat HK. Ternyata, ditemukan kotoran kering melekat dibadan pasien.

Sahal menduga Ayahnya yang merupakan mantan raja Negeri Wolu, Kecamatan Teluti, Kabupaten Maluku Tengah ini tidak dilayani dengan baik oleh petugas. Dia merujuk  pada kotoran yang dibiarkan begitu saja. 

Menurut Sahal, ayahnya mengalami lumpuh. Bahkan pernah jatuh sampai tiga kali ketika mau ke toliet. Ini disampaikan oleh petugas Cleaning servis.  Tak hanya itu, Urine bag atau tempat kencing, kateter Ayahnya juga full. 

Karena itu, ayahnya mengeluh sakit perut karena tahan kencing. Keluarga hanya lihat tidak bisa berbuat apa-apa.  “Kotoran kering yang dibadannya tidak dibersihkan oleh petugas. Saya hargai pelayanan petugas. Tetapi saya mau katakan pelayanan tidak maksimal dan sangat mengerikan di RSUD Haulussy,” tegasnya.

Dia bandingkan pelayanan rumah sakit RSUD Masohi,  lebih fokus pada penyakit bawaan. Sementara RSUD Haulussy fokusnya hanya untuk Covid-19. 

Tiga hari sebelum HK meninggal, Sahal sempat bertemu ayahnya itu. “Saya dekati Ayah, saya tanya rasa demam, jawabnya tidak. Saya tanya lagi, rasa sakit kepala, juga tidak. Lalu apa yang sakit?.Jawabnya belakang. Saya akhirnya lepas APD, kemudian memeluk dan menciumnya. Saya pastikan beliau meninggal, bukan karena Covid tetapi penyakit Kanker. Buktinya saya dan adik saya, yang kontak dengannya rapid test hingga swab semuanya negatif,”sahut Sahal.    

Saat kejadian pengambilan Jenazah HK pada Jumat 26 Juni di jalan Jenderal Soedirman Tantui, baru terbuka ditemukan Pempres yang dipakai HK sebelum meninggal masih melekat di badan. Begitupun baju dan kain yang dipakai ketika di rumah sakit juga masih ada.

“Jika seperti ini, dimana pelaksanaan fardhu kifayah bagi Jenazah muslim. Sementara petugas berjanji fardhu kifayah  tetap dilakukan, tetapi yang terjadi sebaliknya. Petugas  janji akan melakukannya padahal tidak. Saya siap bertangungjawab atas pernyataan ini. Jangankan di Bui. Leher di penggal pun saya siap. Ini karena orang tua saya,” katanya.  

Dirut RSUD Haulussy Rita Tahitu mengatakan, HK masuk di IGD RSUD pada tanggal 16 Juni 2020. Dengan keluhan nyeri pada bagian anus, dan di diagnosa sebagai kanker nektum. Setelah itu, dilakukan rapid test hasilnya reaktif. Sehingga dimasukan ke ruang isolasi.  

Di tanggal 18 kembali dilakukan Tes Cepat Molekuler (TCM) di RSUD, yang akurasinya sama dengan pemeriksaan riel time PCR. Dari hasil itu terkonfiramsi Positif Covid-19.  

Pada tanggal 26 Juni HK meninggal dunia, juga dilakukan Test cepat hasilnya masih positif. Dengan demikian, maka pemakaman  Jenazah dilakukan sesuai protap Covid yang ditetapkan WHO dan Kementrian Kesehatan. Bahkan, anak dari HK saat itu juga diperbolehkan masuk menggunaka APD untuk mensholatkan almarhum.

 “Hari itu ada Ustad yang diundang, tetapi ditunggu belum ada. Makanya anaknya bersama dengan petugas yang muslim untuk Sholatkan Jenazah. Mereka yang tim penanganan Jenazah juga sudah dilatih dengan mengikuti anjuran Kementerian Kesehatan dan WHO,” tegasnya. 

Kadis Kesehatan Provinsi Maluku Meikyal Pontoh menegaskan,   almarhum adalah pasien Covid. Hasil TCM dua kali dilakukan semuanya positif. Pihak rumah sakit, tidak rekayasa dalam menetapkan status pasien, tetapi fakta karena ada bukti. 

Menyangkut tudingan ada skenario, dia mengaku tidak ada sama-sekali. Karena sesuai protap, pasien yang terkonfirmasi positif Covid harus mengikuti aturan yang ditetapkan rumah sakit, termasuk penandatanganan surat seperti yang disampaikan. 

 “Kami tenaga kesehatan di sumpah, apalagi para dokter ini. Kalau ditanya kita bertanggungjawab dengan perlakukan kepada Jenazah, Insya Allah kami bertanggungjawab sebagai orang yang percaya,” jelasnya. 

Terkait Fardu Kifayah, Kadis hanya mengatakan, dilakukan sesuai prosedur Kementerian Kesehatan dan WHO. Termasuk, Fatwa MUI Nomor 18 tahun 2020 tentang pemulasaran Jenazah Covid. 

Dalam fatwa MUI, jika Jenazah tidak bisa dimandikan maka harus dilakukan tayamun dengan menutup semua lubang pada tubuh Jenazah. Jika dalam kondisi emeregency, tidak perlu mengganti baju karena ini dianggap meninggal dalam keadaan Syahid. 

“Semua yang dilakukan sudah sesuai prosedur termasuk Fatwa MUI terhadap tata cara pemulasaran Jenazah Covid-19. Kalau ditanya bisa dipertanggungjawabkan, Insya Allah kami akan siap pertanggungjawabkan,” ungkap pontoh. 

Pertemuan di pimpin Ketua Tim I Covid-19 DPRD Maluku Melkianus Sairdekut akhirnya ditunda untuk rapat lanjutan bersama Ketua Tim Gugus tugas Provinsi Kasrul Selang.  (WHB)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Berita Utama