Connect with us

Amboina

Pelaku UMKM Bertahan Tanpa Bantuan Pemerintah

Masker kain bermotif buah Cengkeh dan Pala yang dibuat oleh Efie Hehanussa (dok.pribadi)

Ambon,ameksOnline.- Pandemi Covid-19 memukul semua sektor usaha, tak terkecuali Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Ambon. Nasib mereka pernah di ujung tanduk, namun bangkit meski tanpa bantuan dari pemerintah.

Efie Hehanussa, Owner B’gaya tidak menerima pesanan jahitan baju selama tiga yakni akhir Maret, April, Mei dan awal Juni 2020. Musababnya, ketika kasus Covid-19 pertama di Ambon, 22 Maret, pemerintah Kota Ambon mulai mengeluarkan himbauan untuk mengurangi aktivitas warga, termasuk larangan acara pernikahan untuk menghindari kerumunan orang.

Baju pengantin yang sudah dipesan dan sudah dibikin Efie, tak kunjung diambil oleh konsumen karena tidak ada pernikahan. “Tiga bulan pertama, benar-benar tidak ada pesanan,”kata Efie kepada ameksOnline via seluler, Selasa (12/1).

Sekitar tiga minggu sebelum Covid-19 masuk Ambon, Efie dan teman-teman telah menjahit masker untuk berbagi kepada tukang becak, tukang ojek dan orang lain di jalanan sebagai bentuk antisipasi.

Ketika pemerintah Provinsi Maluku mengumumkan pasien atau kasus Covid-19 pertama di Ambon, orang-orang mulai melirik masker yang dibuat Efie. Pesanan masker pun berdatangan dari konsumen.

“Selama tiga bulan itu saya hanya bikin masker. Dipesan dari instansi pemerintah maupun dan perorangan. Sampai sekarang masih jahit masker, tapi tidak banyak,”ungkapnya.

Efie kembali menjahit baju pengantian dan baju keluarga, pada Juni meski hanya dua sampai tiga pesanan. Berbeda saat kondisi normal, bisa mencapai sepuluh pesanan dalam satu bulan.

Pesanan semakin bertambah seiring pemerintah melonggarkan aturan, termasuk memperbolehkan acara pernikahan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Bahkan pada Desember tahun lalu, Efie mendapat delapan pesanan baju pengantin dan seragam keluarga serta batik.

Batik Ambon, memang merupakan salah satu produk andalan Efie. Namun, karena ia sibuk dengan personal order, sehingga menyeriusinya. Keseriusannya muncul lagi ditengah pandemi Covid-19.

“Boomingnya, malah dengan Batik Ambon di tengah pandemi ini. Bahkan sampai ikut fashion show di Jakarta dan acara peringatan
satu tahun Ambon City of Music di Jakarta, dengan batik Ambon,”tuturnya.

Fokus Jualan Offline

Efie memulai pekerjaan sebagai desainer profesional sejak 2010 di Ambon, sekembalinya dari Jakarta. Ia sudah memprompsikan karnya dan terdaftar di Tokopedia.

Namun, lulusan Akademi Seni Rupa dan Desain ISWI Jakarta, itu juga tidak serius menggarap penjualan online karena pasti membutuhkan tenaga kerja, berikut pengeluaran untuk gaji. Penjualan online, sebatas di akun facebook dan instagram pribadinya.

Karena itu, ia lebih fokus berjulan secara offline. “Dengan keadaan begini (pandemi) kalau hitungannya salah, bisa malah setengah mati. Jadi, mengalir saja. Promosinya lewat online, tapi ada orang yang datang langsung,”jelasnya.

Pengusaha minyak Kayu Putih, Soni Untayana, juga merasakan dampak pada awal pandemi. Dia tidak bisa mengambil bahan baku di Sulit akibat pemerintah membatasi pergerakan orang dengan persyaratan yang dinilai sulit, termasuk bukti surat keterangan dari lembaga berwenang.

“Tiga bulan pertama itu tidak bisa bikin apa-apa. Semua UMKM nasibnya di ujung tanduk,”tuturnya.

Namun, ketika ada informasi hasil penelitian mengenai manfaat minyak kayu putih yang dapat mencegah penularan virus Korona, Soni ramai pesanan. Kebanyakan secara offline.

“Bahkan dari Jawa telepon pesan minyak kayu putih. Jadi, produksi dan pemasaran tetap jalan, hanya terkendala bahan baku diawal pandemic. Sekarang pasokan bahan baku sudah lancar 100 persen,”ujarnya.

Tidak Dapat Bantuan

Pemerintah telah menggulirkan bantuan bagi UMKM sebagai bagian Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Tapi Efie dan Soni adalah dua dari banyak pelaku UMKM di Kota Ambon yang tidak mendapat bantuan itu, baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah Provinsi Maluku dan Kota Ambon.

“Heran juga, kami tidak dapat. Padahal, kami dipakai di lokasi-lokasi karantina penanganan Covid-19 di Kota Ambon,”ungkap Soni.

Soni tidak setuju dengan salah satu syarat calon penerima, yakni harus berpenghasilan per bulan di bawah Rp1,7 juta. Pasalnya, pendapatan pelaku usaha tidak menentu.

“Dan pendapatan kami bahkan hanya Rp500.000. Herannya, kami tidak dapat. Kami kena dampaknya, tapi kami tidak dapat bantuan. Itu masalahnya,”kesalnya.

Sementara Efie, tidak mempersoalkan bantuan tersebut karena ia hanya fokus ke pekerjaan menjahit. Tetapi, ia memberikan masukan kepada pemerintah, agar setiap bantuan yang dikucurkan ke pelaku usaha harus dikontrol.

Ia berharap, pandemi Covid-19 segera berakhir agar semua pelaku usaha berkativitas secara normal. Meski begitu, Efie mengingatkan para pelaku usaha, agar tetap bertahan dengan kreativitas.

“Kalau orang kreatif, itu tidak ada kehilangan akal untuk tetap bertahan di tengah pandemi untuk mendapatkan uang. Walaupun di tengah pandemic, siapa sangka, saat tidak ada pesanan, ternyata saya bisa hidup dengan menjahit masker,”pungkasnya. (TAB)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Amboina