Connect with us

Berita Utama

Pilkada Maluku Tengah, Pertarungan Tanpa Incumbent itu Seru

Pilkada Malteng
Dua figur muda, Ibrahim Ruhunussa (kiri), dan Sam Latuconsina (kanan).

Ambon, ameksOnline.- Pilkada Maluku Tengah divisualisasikan sebagai pertarungan besar. Para kandidatnya punya basis massa besar. Siapa pemenangnya nanti, juga tak mudah meraih kemenangan.

“Figur yang muncul dan dimunculkan publik di media sosial, cukup merepresentasikan basis massanya. Apalagi pertarungan tanpa incumbent, akan kian seruh Pilkada Malteng,” kata peneliti dari Index, Nendy Kurniawan Asyari kepada ameksOnline.

Skenario pilkada serentak 2024, kata Nendy, memberikan ruang bagi siapa saja untuk bertarung, tanpa harus melawan incumbent. Nama-nama Sam Latuconsina, Ibrahim Ruhunussa, kemudian Mien Ru’ati Tuasikal, punya basis massa.

Baca:

Bupati Malteng, Abua Tuasikal akan mengakhiri masa kerjanya pada September 2022 mendatang. Setelah Abua, kursi bupati akan diisi oleh pejabat sementara. Bagaimana mekanisme masa jabatannya belum diketahui.

Meski demikian, pejabat Bupati itu akan diusulkan oleh Gubernur Maluku. Pejabat kepala daerah ini akan berlaku hingga pelaksanaan Pilkada serentak pada 2024 mendatang.

“Tidak bisa dihindari, siapa kandidat yang dekat dengan instrumen pemerintah, punya peluang cukup besar untuk menang. Realitas politiknya seperti itu. Meski idealnya aparatur pemerintah dilarang ikut berpolitik praktis,” kata dia.

Soal peluang, kata Nendy, belum bisa diukur pasti, karena masih menyisahkan tiga tahun. Namun kerja politik tidak bisa menunggu setahun jelang pilkada, baru kandidat bekerja.

“Lihat Pilpres sekarang. Kandidatnya di survei. Lalu mulai kerja turun ke daerah-daerah. Ajang PON juga digarap. Itu artinya apa, tiga tahun itu waktu singkat dalam kerja politik,” kata Nendy yang pernah bekerja untuk kemenangan Abua Tuasikal ini menjadi Bupati.

Menurut dia, di Malteng butuh kerja politik yang lama. Siapa kandidat mulai menanam benih politiknya lebih awal, akan lebih mudah memanen hasil pada tiga tahun mendatang.

Baca:

Soal pembiayaan besar jika bekerja mulai saat ini, Nendy mengungkapkan, itu resiko politik ketika seseorang ingin menjadi kepada daerah. Kata dia, kandidat tidak bisa datang ke masyarakat, lalu tiba-tiba menyampaikan keinginan untuk menjadi kepala daerah.

“Itu alasan, kenapa incumbent itu susah ditumbangkan. Karena memang saat dia menjadi kepala daerah untuk pertama kalinya, dia juga mulai bekerja untuk periode berikutnya dengan dukungan infrastruktur pemerintah tentunya,” kata Nendy.

Karena itu, dia melihat di Pilkada Malteng, tidak mudah menentukan siapa lebih dominan dari yang lain. Tapi tokoh muda akan lebih disenangi pemilih, apalagi datang dengan perubahan.(MG-01)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Berita Utama