Connect with us

Berita Utama

Satu Tahun Dipimpin Murad, Maluku Masih Termiskin Keempat

pengamat ekonomi unpatti
Pengamat Ekonomi Universitas Pattimura Ambon, Muhammad Ridhwan Assel

Jakarta, ameksOnline.- Penduduk miskin di Maluku masih banyak. Maluku masih nangkring diurutan keempat dengan prosentase jumlah penduduk miskin terbanyak di Indonesia. Hanya beda sedikit sama dua Papua, dan Nusa Tenggara Timur.

Dengan jumlah penduduk 1,8 juta jiwa berdasarkan sensus penduduk tahun 2020, prosentase penduduk miskin Maluku mencapai 17,99 persen per September di tahun yang sama. Angka ini cukup tinggi.

Pengamat Ekonomi Universitas Pattimura Ambon, Muhammad Ridhwan Assel mengatakan, di Maluku, kemiskinan lebih banyak disumbangkan dari desa dibanding perkotaan.

Pengelolaan Alokasi Dana Desa dan Dana Desa belum optimal diarahkan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. Kata Assel, pengelolaan justeru pada proyek-proyek fisik yang pemanfaatannya kecil sekali bagi masyarakat.

Berdasarkan teori ekonomi, kata dia, kemiskinan bisa dilihat dari dua sisi, berdasarkan tingkat keparahannya dan kedalamannya. Di Maluku, dua indeks ini sangat tinggi.

Indeks keparahan di Maluku naik dari 0.8 persen pada tahun 2018 menjadi 1.11 pada tahun 2019. Sementara indeks kedalamannya mencapai 3,2 pada tahun 2018, menjadi 3,74. Kata dia, semakin prosentasenya mendekati 1 persen untuk indeks keparahan, makin lebar kesenjangan diantara masyarakat miskin.

Sementara semakin tinggi indeks kedalamannya, semakin jauh masyarakat miskin dari garis kemiskinan atau kian susah mereka penuhi kebutuhan dasarnya.

“Di Maluku indikatornya 550 ribu rupiah per bulan atau equivalen dengan 2100 kalori,” kata Assel.“Kalau kedua indeks ini naik, menunjukan bahwa kemampuan orang miskin untuk penuhi kebutuhan untuk keluar dari kemiskinan semakin sulit,” tambah dia.

Kondisi ini, kata dia, bisa bertambah parah, bila pemerintah tidak mampu menekan laju prosentase angka pengangguran. Meski, pengangguran bukan satu-satunya variabel yang memengaruhi tingkat kemiskinan.

Menurut dia, Pemerintah Provinsi Maluku sudah harus mengubah orientasi pembangunan dari proyek fisik yang padat modal ke program-program yang padat karya.

“Untuk program fisik dalam jangka pendek berpengaruh, tapi jangka panjang harus padat karya. Kalau di Maluku, ada padat karya, tapi harus masih dipacu lagi,” tandas Assel.(yan)

  1. Papua 26,8%
  2. Papua Barat 21,7%
  3. Nusa Tenggara Timur 21,21%
  4. Maluku 17,99%
  5. Gorontalo 15,59%
  6. Aceh 15,43%
  7. Bengkulu 15,30%
  8. Nusa Tenggara Barat 14,23%
  9. Sulawesi Tengah 13,06%
  10. Sumatera Selatan 12,56%

1 Comment

1 Comment

  1. samsulbahrimony

    Februari 17, 2021 at 11:16 am

    Emangnya miskin kaya itu segampang membalikkan telapak tangan..? Lagian baru setahun..!!!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Berita Utama