Connect with us

Berita Utama

Seminggu Ikan Paus 12 Meter Terdampar di Pantai Desa Kolaha

ikan paus terdampar
Ikan Paus yang terdampar sudah seminggu. -IST-

Dobo,ameksOnline.- Masyarakat di Desa Kolaha, Kecamatan Aru Utara, Kabupaten Kepulauan Aru sepekan lalu, dibuat heboh dengan penemuan bangkai ikan Paus berukuran 12 meter. Sayangnya, hingga kini pemerintah daerah atau instansi terkait belum turun melihat kondisi hewan mamalia itu.

Informasi yang dihimpun Ambon Ekspres, masyarakat Desa Kolaha, yang bermukim di pesisir pantai dikagetkan dengan terdamparnya bangkai ikan paus berukuran raksasa, pada hari Rabu 24 Februari lalu.

Diperkirakan ukuran ikan paus sepanjang 12 meter dan lebar 3 meter. Dengan cepat informasi ini menyebar ke masyarakat lewat postingan media sosial yang awalnya diunggah oleh akun Facebook atas nama Laidin Watafuan.

Saat dihubungi Ambon Ekspres, Arifin selaku Kaur Pembangunan Desa Kolaha, ketika dikonfirmasi melalui via telepon seluler membenarkan temuan bangkai ikan paus.

“Sejak tanggal 6 Februari pagi, ikan ini sudah terdampar di depan kampung. Masyarakat pagi-pagi sudah kasi tahu (informasikan) kalau ada ikan paus, lalu saya suruh masyarakat untuk ambil tali dan tarik ikan ke darat,” ungkap Arifin melalui via telepon, Rabu (24/2).

Kata Arifin, sejak tanggal 6 Februari sampai 23 Februari, bangkai ikan itu masih utuh belum membusuk. Dirinya bersama warga untuk selalu memantau.

” Saya perintahkan warga untuk menjaga saja sampai ikan hancur baru kami kumpul tulang-tulangnya,” kata Arifin.

Sayangnya, Arifin mengaku hingga saat ini pihaknya belum melaporkan kejadian ini ke lembaga terkait. “Belum ada instansi atau pemerintah daerah yang turun melihat,” sesalnya.

Callins Lipuy, salah satu pemerhati lingkungan Kepulauan Aru ketika dikonfirmasi melalui via telepon seluler menyampaikan bahwa kejadian ini bukan pertama tapi sudah terulang tahun lalu.

“Kejadian serupa di Desa Samang, Kecamatan Pulau-pulau Aru, sudah sering hewan besar dari laut Arafura mulai terdampar ke darat,” tuturnya.

Menurut Lipuya, fenomena yang langkah ini, mulai terjadi dalam kurun beberapa tahun terakhir.

Dia menduga, kejadian tersebut sebagai dampak dari akibat kapal-kapal penangkap ikan yang sekian banyak di perairan Dobo yang mengunakan alat penangkap yang canggih bahkan mungkin ada yang menggunakan pukat harimau.

“Ini semua mengganggu ekosistem biota laut yang ada di perairan ini,” endusnya.

Tokoh muda Kabupaten Aru, ini berharap adanya perhatian khusus dari Pemerintah Kabupaten Aru, pemerintah Provinsi Maluku agar operasi tangkap ikan di perairan kepulauan Aru mulai diawasi secara ketat.

“Kita minta perhatian serius pemerintah daerah dan seluruh instansi terkait. Penyalahgunaan penangkapan ikan Aru sudah sangat berdampak pada ekosistem pesisir dan laut Kepulauan Aru,” ketusnya. (JUN)

1 Comment

1 Comment

  1. Francis Hetharia

    Februari 25, 2021 at 4:17 am

    mestinya jangan di tarik ke darat…mmbusuk dan berbau..knapa gak seret lagi ke laut??

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Berita Utama