Connect with us

Berita Utama

Simak Penjelasan Keluarga Almarhum HK

Andi dan Nur, anak dari almarhum HK. -Lutfi Helut-

Ambon, ameksOnline.- Keluarga pasien HK (57) membantah melakukan penganiayaan terhadap perawat RSUD Haulussy secara berulang. Mereka membenarkan sempat emosi, namun tidak sampai melakukan penganiayaan seperti kesaksian Jomima Orno. 

Andi dan Nur, kepada ameksOnline, Sabtu (27/6) sore, mengaku tidak pernah menganiaya petugas rumah sakit atau memukuli petugas berkali kali. “Ada keterangan tidak benar yang disampaikan. Kami tidak melakukan seperti yang dituduhkan,” kata Andi, anak almarhum HK.

Dia lantas menuturkan insiden yang terjadi di RSUD Haulussy pagi itu.  Awalnya mereka diinformasikan, kalau ayahnya sudah meninggal dunia. Pihak keluarga langsung menuju RSUD Haulussy. Saat masuk rumah sakit, tidak ada petugas medis yang mencegat. 

“Saat kami masuk, dan melihat,  bapak tidak terurus sama sekali. Tak layak seperti seorang manusia. Bapak dibiarkan begitu saja. Bahkan ada bercak darah disekelilingi mulut almarhum,” kata Andi menahan tangis.

Melihat ayahnya tak terurus, memantik emosi Andi dan pihak keluarga. Mereka menangis. Tak sanggup melihat orang tuanya dibiarkan begitu. Di tengah kesedihan, ada yang menyampaikan informasi kalau ayahnya sempat mengeluh lapar sekira pukul 02.00 hingga pukul 03.00 pagi.

Selain itu, lanjut Andi, ayahnya sempat dua kali jatuh, dan di tolong oleh seseorang. “Kami tidak tahu siapa, tapi informasinya seperti itu. Masa, pasien dibiarkan begitu saja, tanpa perawatan medis, saat dibutuhkan sama sekali,” kesal Andi.

Mendengar informasi itu, kemarahan keluarga memuncak. Bersamaan ayahnya dibawa ke ruang jenazah oleh perawat, lampiasan emosi  ke tenaga medis wanita bernama Jomima Orno ini.  

“Tarik APD itu. Percuma kalian pakai APD, kalau pasien tidak diurus, dan dibiarkan meninggal seperti ini,” kata Nur, mengutip yang disampaikan kakaknya saat insiden. Kakaknya lantas menarik APD perawat, namun ditangkis. 

“Karena tangkis itu, menyebabkan APD-nya sobek,” kata Nur. Perawat lantas lari meninggalkan ruang jenazah. Nur membuntutinya dari belakang. 

“Karena sudah terlalu banyak hal ganjil soal perawatan ayahnya, saya emosi. Saya tarik perawat itu, tapi hanya pukul sekali. Tidak berulangkali seperti yang disampaikan. Apalagi sampai menendang. Demi Allah bang,” kata Nur sambil meneteskan airmata. 

Nur lantas dilerai Andi. “Hei stop,” hardik Andi kepada adiknya. Dia juga membantah, ibu mereka atau isteri dari HK ikut memukul, tidak benar. “Bagaimana isteri dari HK memukul, ibu kami itu lagi di Masohi,” kesal Andi.

Andi meminta perawat itu jujur menyampaikan fakta. “Betul ada penyerangan, tapi tidak seperti yang disampaikan. Pukul tangkis, tarik APD, lalu sobek. Pukul sampai di kepala itu tidak ada. Itu tidak benar. Kenapa, karena orang tua sedang terbujur kaku,” kata Andi. 

Nur juga membeberkan bagaimana ayahnya tidak diurus oleh tenaga medis. “Ada yang menyampaikan, bapak sebelum Sakratul maut (saat akan meninggal dunia) , bapak benar-benar kelaparan. Tidak ada tenaga medis. Akhirnya ada yang hanya bisa memberikan bapak air putih untuk minim,” kata dia sambil meneteskan airmata kembali.(upi)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Berita Utama