Connect with us

Berita Utama

Suara Hati Mantan Napi: RMS Negara Dongeng

MANTAN NAPI : Belasan mantan Narapidana (Napi) atau tahanan politik RMS, berjanji dan mengajak warga maupun simpatisan RMS agar tetap mencintai NKRI. Kegiatan tersebut berlangsung di Saparua. -IST-

Ambon, ameksOnline.- RMS hanyalah negara dongeng. Mereka merasa ditipu, setelah di penjara selama beberapa tahun. Memilih mencintai NKRI kembali, menjadi pilihan terbaik.

Inilah yang disampaikan Belasan mantan Narapidana (Napi) atau tahanan politik Republik Maluku Selatan (RMS). Mereka berasal dari Negeri Aboru, dan sejumlah Negeri lain di Kecamatan Pulau Haruku dan Saparua, kabupaten Maluku Tengah.

Para mantan Napi ini mengaku sadar, dan khilaf terhadap aksi yang mereka lakukan selama ini. Mereka menyebut, RMS hanyalah sebuah negara dongeng yang ada di Indonesia, khususnya Maluku.

Johni Siahaya mengatakan, perbuatan mengibarkan bendera benang raja beberapa tahun silam itu sangat salah. Tidak ada negara diatas negera. RMS hanya janji palsu dan merupakan negara dongen.

“Kami para mantan tahanan politik (Tapol) atau mantan Napi RMS (kasus makar) kini sudah sadar. 17 tahun pelita perjalanan kehidupan saya dengan keluarga. Dan saya berjanji bahwa tidak akan pernah mengulanginya. Kami hanya ingin bahagiakan keluarga kami dan selalu hidup dibumi pertiwi Indonesia ini,”kata dia, dalam rilisnya yang diterima media ini, kemarin.

Menurutnya, setelah menjalani masa hukuman di penjara belasan tahun membuat mereka sadar, jika aksi yang dilakukan itu salah. Awalnya hanya sekadar ikut-ikutan.

“Sakit ketika berada dibalik jeruji besi. Kami hanya simpatisan dan hanya ikut tergiring dalam isu RMS. Kami sudah sadar dan hanya ingin bekerja seperti semula hidup dibawa naungan NKRI,”tegasnya.

Siahaya dan belasan mantan Napi RMS lainnya meminta, kepada warga untuk tidak terprovokasi dengan adanya isu RMS. Isu itu hanya akan membawa penderitaan.

“Cukuplah kami yang merasakan. Kalian (warga dan yang masih merasa sebagai simpatisan) untuk tidak lagi terlibat atau termakan isu RMS, apalagi sampai harus berurusan dengan hukum,”ajaknya.

Dirinya juga telah mendeklarasikan Cinta NKRI, dan tidak lagi terlibat dalam hal apapun yang berkaitan dengan RMS tersebut.

“Isi deklarasi Katong (kita) bertekad untuk kemajuan Indonesia tercinta. RMS adalah kita punya masa lalu. NKRI harga mati. Mari basudara (bersaudara) katong (kita) bangun Maluku, Untuk Indonesia,” kata dia. Deklarasi ini ditandatangani oleh 11 orang mantan Napi RMS, Camat Saparua Timur, Ketua Klasis Pulau Lease, Ketua Angkatan muda pulau-pulau Lease, dan pimpinan instansi terkait di Saparua dan Haruku.

Ketua daerah Angkatan Muda Pulau pulau Lease, Leni Latul mengungkapkan, semua orang menyuarakan keadilan. Itu hak yang mutlak namun bukan dengan tindakan separatisme.

“Tidak ada dua bendera di dalam satu Negara dan tidak ada negara di atas satu Negara yang sah,”kata dia. Terlalu banyak kerugian yang dialami oleh masyarakat Maluku, yang terpapar paham separatis RMS dan melakukan gerakan separatis RMS.

Pulau Haruku dan Saparua juga terkena imbasnya akibatnya oleh gerakan tersebut. “Kami di pulau Lease, terutama Saparua dan Haruku ini, menerima imbas dari adanya gerakan RMS ini. Padahal yang kita dapat hanyalah penderitaan,”paparnya.

Sekretaris Klasis GPM Pulau Pulau Lease, Pdt Hendri Rutumalessy mengingatkan, kepada mantan napi RMS dan simpatisannya untuk tidak terpengaruh dan berjanji agar tidak ikut dalam bentuk apapun dari kegiatan separatisme.

“Tidak akan melakukan kegiatan-kegiatan, yang dimainkan oleh RMS. Mari kita ingat akan Tuhan dan janji ini dibuat dengan Tuhan maka kalian yang akan berpekara dengannya jika melanggar,”tegas sang pendeta. (AHA)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Berita Utama